Posted by: Holdani R. | February 8, 2011

Cerita sampingan resident evil outbreak part 4

Mulai sekarang sudut pandang nya adalah seorang Pemuda bernama Michael. Selamat membacai.
*****************************
Gelap sudah hari ini. Aku dapat merasakan perubahan hawa yang terjadi, agak sedikit lebih dingin. Menyusuri jalan kecil dalam halaman Rumah Sakit kota Raccoon.
”Apa yang akan kita lakukan disini, Mike?” tanya Pete berbisik.
”Hanya berjalan jalan. .” Jawabku.
”Kita tak seharusnya berada disini. . Sekarang sudah gelap. .”
Aku membalikkan badanku kearah Peter. Kutatap matanya.
”Aku tidak percaya kau sepengecut ini, pete”
”hey. .bukan maksudku bersikap pengecut. .tapi kita akan dapat masalah jika menyusup masuk begini. .” jelas pete.
Alasan yang logis dari Pete. Tapi bukan gaya ku untuk tidak menyelesaikan apa yang telah kumulai.
”Mike lihat itu” pete menunjukkan jarinya kearah seorang pria yang baru saja keluar dari pintu kecil di belakang rumah sakit.
”Siapa dia?” Pete bertanya
”Mana aku tahu?” jawabku kesal mendengar pertanyaan bodoh Peter.
Pria itu mengenakan kemeja, celana, jubah dan sepatu serba hitam.
”Mungkin dia petugas keamanan disini” kata ku menjelaskan.
”Tidak. . .untuk seorang petugas keamanan dia terlalu. . .” gumam Pete.
Pria itu pun berjalan kearah kami, namun tak menyadari kehadiran kami karena kami langsung bersembunyi di balik semak semak. ”Hampir saja. . .” ucap ku. Kulihat Pete memandangi Pria tersebut. ”Hey Pete. .”
”ya kenapa, mike?” jawabnya yang baru tersadar dari lamunannya. ”Ayo kita masuk. . .”
”Baiklah. . .” jawab Pete mengangguk.

Kami masuk ke rumah sakit itu melalui pintu tempat pria baju hitam itu keluar. Setelah memasuki pintu, kami berjalan disebuah lorong dengan pencahayaan seadanya. Di sebelah kiri dan kanan kami terdapat pintu pintu yang entah mengapa kami tak mau membukannya. Di ujung lorong terdapat pintu besar. Kami pun keluar dari lorong tersebut, lalu mendapati bahwa ruangan-ruangan di gudang itu adalah gudang dan kamar tak terpakai.

Kami berjalan mendekati bagian depan atau administrasi rumah sakit ini. ”sepi sekali. . .tidak ada orang sama sekali” gumamku.
”Ya. . Dan ini aneh” jawab pete
”Tak ada perawat, pasien, atau dokter” lanjutnya
Aku hanya bisa setuju dengannya.
”Sebenarnya apa yang akan kita lakukan disini Mike?” tanya pete
”Baiklah. . .beberapa hari lalu, setelah kau memperbaiki handy talkie mu yang rusak, aku mencoba menyalakan dan mengutak ngatik gelombang radionya. . .lalu tak sengaja aku mendengar percakapan dua orang. . .”
”Lalu? Apa hubungannya dengan ini?”
”. . Mereka membicarakan sesuatu tentang ‘membangkitkan yang mati’ dan ‘keabadian’. . .aku tak begitu mengerti. . .tapi yang paling mengejutkan setelah percakapan itu aku tahu, wanita dalam percakapan itu adalah seorang karyawan Umbrella. . .”
”Umbrella? Perusahaan itu?” sela pete.
”Ya. . .aku hanya ingin tahu apa yang mereka lakukan di rumah sakit ini” jelas ku.

Tiba tiba terdengar suara langkah kaki dari arah belakang kami. Kami melihat kebelakang dan terkejut Pria berbaju hitam itu sudah di belakang kami.
”Hemm. . .rupanya ada pencuri dengar disini. . .” kata Pria itu.
”Kau? Kau pria dalam percakapan itu. . .kalau tidak salah wanita itu memanggil mu Brain. .” tuduhku.
”Kau tahu terlalu banyak nak. . .”
Pria itu mengambil sesuatu dari jubahnya. ”Ayo pete!” teriak ku sambil berlari ke arah Brain dan mendorongnya jatuh. Seketika aku dan Peter langsung lari menuju lorong yang kami masuki tadi. Terdengar bunyi senjata di kokang dan *dor* *dor* *dor* tiga tembakan dilepaskan pria itu. Semuanya meleset. Kami pun membuka pintu lorong dan masuk, sebelum masuk kami sempat mendengar pria itu berteriak ”Lebih baik kalian mati disini daripada dimakan mereka ha ha ha!”. Aku tak paham apa yang dia maksudkan.

Setelah keluar dari lorong menuju halaman belakang rumah sakit. Kami berlari ke depan rumah sakit. Di sana lah kami mengetahui arti sebenarnya kalimat pria itu. Benar saja, sekelompok orang di serang dan dimakan oleh orang orang yang seperti zombie. ”Mike!” panggil pete.
Kakiku tak bisa bergerak, tontonan sadis itu mengontrol pikiranku.
”Ayo lari Mike!” Pete menarik tanganku.

Kami berlari keluar dari area rumah sakit. Di semua sudut kota sama saja, mereka menyerang warga kota. Menggerogoti kepala mereka. Aku pun tak tahu harus kemana. ”mau kemana kita?” tanyaku. ”Tentu saja ke rumah! Ini gila” jawab pete.
Aku tak yakin orang orang dirumah aman, melihat kejadian ini. bahkan polisi pun kesulitan.

Benar saja, begitu kami sampai di rumahku. Badanku lemas, aku tak mampu berdiri. Ayah dan ibuku sudah seperti mayat hidup, seperti zombie. Mike hanya bisa menarik tangaku dan pergi lagi. Kami tak tahu apa yang akan terjadi pada kami. Pikiran ku kosong.


Responses

  1. nice post

    http://faiz08.WordPress.com


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: