Posted by: Holdani R. | February 15, 2011

World of Fantasy – Nicolai’s Journey

Matahari terbit menyinari pedesaan Yuath di daerah barat daratan Garland. Desa yang lumayan besar yang dikelilingi oleh hutan dan gunung. Di sebelah utara terdapat sungai Laziek yang mengalir dari barat ke timur.
Para penduduk desa memulai aktivitas mereka dengan membuka toko-toko mereka, membawa hewan ternak ke padang rumput, dan para Ibu rumah tangga membersihkan rumah mereka. Nicolai, pemuda 17 tahun dengan rambut coklat kehitaman itu bangun dan segera menyiapkan diri. Ia keluar dari kamarnya dan berjalan menuju meja makan. Tiga piring terletak bersama roti bakar diatasnya.
”Ayah dimana, bu?” katanya sembari mengambil roti bakar lalu mengunyahnya.
”Dia pergi berburu bersama Joe dan Fred, bahkan dia belum menyentuh sarapannya” Joanne, ibu Nicolai mengeluh. Wanita dengan rambut hitam itu begitu mencemaskan suaminya, Morgan.
”Morgan jarang meninggalkan makanannya, sepertinya ada yang menarik perhatiannya setelah ia berbicara dengan Joe kemarin malam sampai ia meninggalkan makanannya.” lanjutnya.
”Apa yang mereka bicarakan?” Nicolai sudah menghabiskan rotinya.
”Sesuatu di hutan Gir’foc, aku tidak yakin itu hal yang baik” wajah cemas terlihat pada wajah Joanne.
‘Hutan Gir’foc? Apa yang ayah cari?’ Pikir Nicolai sambil meminum segelas susu hangat yang baru saja disajikan Joanne.
”Aku akan menyusulnya kesana” Nicolai menyatakan pendapatnya.
”Terima kasih nak, aku akan menyiapkan makanan dan bawakan pada mereka” Joanne kembali sibuk dengan aktivitasnya, sementara Nicolai menyiapkan dirinya untuk pergi ke hutan Gir’foc. Ia menyiapkan busur dan anak panah. Ia memang bukan pemburu terbaik di desanya, tetapi kemampuannya bisa dikatakan hebat. Ia membuka laci yang ada di sebelah tempat tidurnya, mengambil sebilah pisau belati berwarna perak. Di gagang pisau terukir tulisan ‘Kritz’ yang ia sendiri tidak mengerti apa maksud dari kata tersebut dan memasukannya ke dalam tas kulit coklat yang tergantung di pinggangnya.

Ia mengenakan sebuah rompi kulit bewarna coklat dan baju kain bewarna hijau. Ditambah celana panjang hitam dan sepasang boot coklat. Setelah menyiapkan dirinya, ia kembali ke dapur untuk membawa bekal untuk ayahnya.
”Ini sudah semua, bu?” Nicolai menggendong sebuah tas berisi makanan. ”Ya, segera lah pergi, mungkin mereka sudah sangat lapar” Joanne menjawab. ”Kalau begitu, aku pergi dulu”.
”Hati-hati, nak” ucap Joanne. Nicolai hanya membalas dengan senyuman.
Ia pun keluar, menghirup segarnya udara pagi hari. Susana desa yang ceria dapat ia rasakan. Menelusuri jalan menuju ke hutan Gir’foc.
”Pagi, Nick! Kemana kau ingin pergi?” terdengar suara perempuan dari belakang. Nicolai mengenali suara ini, ia ber balik dan melihat Sarah, pemilik suara tersebut. ”Pagi, Sarah. Aku akan ke hutan Gir’foc, membawakan makanan pada ayahku, Joe, dan Fred” Hatinya sangat senang, bisa disapa oleh gadis cantik seperti Sarah sepagi ini. ”Bahkan ayahmu juga. .” wajah Sarah menampakan kesedihan dan kekhawatiran. Sarah menghawatirkan Ayahnya, Fred, yang ikut pergi berburu. ”Tenang Sarah, semuanya akan baik-baik saja” Nicolai menggenggam tangan Sarah. ”Ya, semoga. .”. Gadis dengan rambut pirang itu terdiam, mata coklatnya lalu menatap mata Nicolai.
”Hei, apa aku mengganggu kalian, aku sudah berdiri disini sejak beberapa menit yang lalu” suara Pemuda mengagetkan mereka berdua. ”Dylan. .” ucap Nicolai. ”Huh, hanya itu? baiklah. .Selamat pagi kalian berdua” sapa Dylan dengan senyum kesalnya.
”Pagi. .” jawab Nicolai dan Sarah. ”Bukankah masih terlalu pagi bagi kalian untuk. .”
”Ya, ya, ya, Dylan, sudahlah” sela Nicolai. Dylan pun menghela nafasnya, ”Jadi, aku akan ikut dengan mu” jelas Dylan dilanjutkan dengan senyumnya.
”Itu yang kuharapkan, kawan” jawab Nicolai. ”Berhati-hati lah kalian. .” Sarah menghela nafasnya.
”Ya, kami akan berhati-hati” jawab mereka berdua. Lalu mereka berjalan keluar desa.

Sarah hanya diam melihat kepergian teman temannya, terutama Nicolai, pemuda yang ia sukai. Dia berbalik dan berjalan menuju ke rumahnya. Di rumahnya, hanya ada ia dan kakak laki-lakinya, Travis. Travis adalah ahli pedang atau swordmaster terbaik di Yuath. Nicolai dan Dylan pun belajar padanya. Sehebat apa pun dia, masih memiliki kelemahan, ia sangat sayang kepada Sarah. Dia tak akan bisa diam jika melihat adik satu satunya itu sedih.
Sarah diam, membaca buku sembari duduk di kursi di kamarnya. Pikirannya tak lepas dari Nicolai, ia menghawatirkannya, seperti dia juga menghawatirkan ayahnya. Tapi ia yakin, Nicolai, Dylan, Joe, Morgan dan ayahnya akan baik baik saja, karna ada Nicolai dan Dylan yang telah belajar banyak dari Travis.
‘Nick. . .’
Ia pun menutup bukunya dan memutuskan untuk pergi ke halaman belakang. Terdapat Sebuah makam dengan batu berukirkan ‘Loreaine Crimson’. Sarah terdiam sejenak, memejamkan matanya. ‘Ibu. . .’ tanpa ia sadari, air mata mengalir dari matanya.

Hutan Gir’foc terlihat sangat jelas ketika matahari tetap bersinar, namun sangat gelap dan menyeramkan ketika malam hari. Menyusuri jalan kecil, Nicolai dan Dylan berjalan sambil melihat sekeliling, mungkin bisa menemukan Morgan dan kawan kawannya. ”Apa yang mereka cari di hutan ini?” tanya Dylan yang sedari tadi terdiam. ”Aku tidak tahu, yang jelas sepertinya ada sesuatu yang menarik perhatian ayahku ketika Joe datang dan berbicara dengannya”.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: