Posted by: Holdani R. | January 21, 2013

Hasil Wawancara dengan Dr. Ari Warokka, PhD. mengenai Penghargaan Nobel Ekonomi

Ini adalah hasil wawancara PL (Praktek Lapangan) ke-1 mata kuliah Wawancara gue yang disuruh oleh Bapak Sahat Sahala Tua Saragih

Silahkan disimak:

 

PL1/Wawancara/B/2012                                                                             Holdani Rahmansaib

                                                                                                                            210110110289

 

Dr. Ari Warokka, PhD, M.Sc, MDEM, MCEUE, DEA

Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Jakarta yang Mengajar di Malaysia

Publikasi Menjadi Jalan Menuju Nobel

Pengantar

Dominasi Amerika dalam penerimaan penghargaan nobel di bidang ekonomi adalah karena adanya budaya meneliti, didukung oleh pemerintah dengan sistem dan fasilitas yang memudahkan penelitian. Di Indonesia, pemerintah kurang memberikan dukungan untuk penelitian seperti itu. Di Malaysia, seorang dosen dituntut untuk melakukan dua penelitian per semesternya untuk dapat tetap menerima gaji. Hasil penelitian tersebut tidak hanya diberikan begitu saja, namun juga harus sudah di publikasikan ke dalam  jurnal internasional.

Di Malaysia sendiri, terdapat penghargaan yang bisa dibilang adalah ‘Nobel versi Malaysia’. Setiap tahunnya dicari orang-orang yang dianggap mempunyaikontribusi yang besar terhadap ilmu pengetahuan. Hadiah yang diberikan sebesar satu juta Ringgi atau sekitar tiga milyar Rupiah. Selain itu juga, negara akan menjamin pemenang tadi mendapatkan tunjangan sebagai profesor negara yang gajinya kurang lebih lima puluh ribu Ringgit per bulan atau sekitar 150 juta Rupiah bersih.  Hal itulah yang membuat Malaysia maju. Itulah yang dikatakan Ari Warokka, dosen terbang Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Jakarta (UNJ) yang mengajar di Malaysia saat ditemui Minggu (4/11) pukul 17.00 WIB di Wisma UNJ, Rawamangun, Jakarta Timur.

Bagaimana pendapat anda tentang penghargaan nobel ekonomi 2012?

Nobel Ekonomi adalah mengaplikasikan Ilmu ekonomi pada level kehidupan sehari-hari dan skalanya skala masif. Skala masif itu boleh diaplikasikan di sebanyak mungkin bidang, itu nobel ekonomi. Kalau menjawab nobel ekonomi yang sekarang ini, teori itu kan sudah ada dari tahun 1962. Kalau kita lihat semua teori, semua disertasi itu isinya rumus matematika semua. Jadi gini, rumus matematika yang sederhana tadi itu memang bisa diaplikasikan dan nanti dimodelin. Jadi sebenarnya ini adalah sumbangan matematika terhadap ilmu ekonomi, dulu ilmu ekonomi lebih kepada optimasi, mencari dari sumber daya yang terbatas bisa didapatkan hasil yang paling optimum. Di kasus yang sekarang itu, dia bisa membuat alokasi sumber daya yang terbatas kepada hasil yang seoptimal mungkin.

Bagaimana menerapkan teori tersebut?

Contoh klasiknya adalah kasus di amerika serikat, rumah sakit perlu para dokter. Kendalanya, rumah sakit tidak bisa mendapatkan calon terbaiknya, dan calon terbaiknya tidak bisa mendapatkan rumah sakit yang dia inginkan. Memang kalau kita lihat  matematikanya, gimana cara ngerjainnya. Nah dipecahkannya dengan bekerja sama dengan programming, kerjasamanya dengan orang komputer. Dengan logika matematika dan program expert  choice, logika yang sama diterapkan dalam sebuah software yang membantu mengaplikasikan rumus matematika tadi supaya bisa dihitung dengan cepat. 

Bagaimana menerapkannya di Indonesia?

Kalau di Indonesia sebetulnya banyak diperlukan. Sebenarnya gampang, keperluan antara dokter PTT. Dengan asumsi sekarang orang PTT deket-deket aja, mana mau jauh-jauh dikirim ke daerah. Terus penempatan PNS-PNS baru, kita mau ngecek perlu ngga. Karna ada pemda yang kelebihan tenaga, ada pemda yang kekurangan. Kekurangannya juga dispesifikasi juga, kekurangannya di bagian mana. Ada pemda yang butuh di bagian layanan masyarakat, layanan publik.

Pendapat anda tentang dominasi Amerika dalam peraihan nobel ekonomi?

Di dunia pendidikan mereka, budaya meneliti adalah setengah hidupnya para orang yang berkarir sebagai dosen. Di amerika semua yang dipanggil dosen kalau mereka sanggup melakukan penelitian. Mereka bisa melakukan penelitian karena didukung penuh negara. Yang kedua memang di tiap-tiap universitas, terutama univesitas swasta, di amerika yang maju malah swasta, karena swasta pandai berkolaborasi dengan dunia bisnis. Jadi semua penelitian harus bisa diaplikasikan dengan dunia bisnis. Kalau di tempat saya mengajar di Malaysia, maksimal mengajar dua mata kuliah. Gajinya besar dua mata kuliah, kalau di Indonesia untuk dapat lima belas juta dosen harus ngajar sepuluh kelas. Saya ngga perlu ngajar sepuluh kelas, cuma ngajar dua kelas. Sisa jam nya untuk riset. Saya setiap semester harus punya dua publikasi yang ada di Jurnal Internasional.

Apa yang bisa dicontoh?

Sebetulnya mudah. Saya sudah setuju dengan yang dilakukan Dirjen Dikti dengan memaksa orang mempublikasi tulisan hasil-hasil, kayak mahasiswa kalau mau lulus kan ada skripsi, harus publikasi. S2 kalau mau lulus harus publikasi. Kalau S3 sebelum ujian harus udah punya publikasi. Indonesia sudah melakukan step yang sudah dilakukan Malaysia 5 tahun yang lalu. Yang kedua, saya setuju dengan open access journal. Dulu kalau orang mau publikasi gratis, kalau orang mau lihat harus bayar. Sekarang yang saya dukung open access journal, terbalik. Orang mau publikasi harus bayar, sedangkan orang yang ingin akses gratis.

Mungkinkah Indonesia dengan keadaan sekarang ini mendapatkan nobel?

Susah, mas kalau nobel. Saya mengajar di Indonesia sejak tahun 1996 sampai 2010, publikasi saya di Jurnal Internasional nol. Saya kerja di Malaysia 2010 sampai 2012, publikasi saya di jurnal internasional sudah 42. Di Malaysia saya ngajar Cuma dua kelas, lebih banyak riset. Dipacu untuk meneliti. Kalau logika yang sama pindah ke Indonesia, sudah pasti banyak lah. Amerika muncul itu karena banyak meneliti. Semua hadiah nobel kecuali perdamaian datang dari dunia kampus, ga ada orang yang mendapatkan nobel ekonomi tanpa gelar. Kalau perdamaian, orang ga sekolah pun boleh.

Adakah ekonom  Indonesia yang berpotensi dapat nobel?

Iwan Jaya Aziz, professor di Cornel University. Jadi dulu dia pulang ke Indonesia, dia tidak terlalu diterima, balik lagi ia ke Cornel. Banyak orang Indonesia, pulang ke Indonesia tidak siap diterima oleh sistem di Indonesia.

Kenapa pada balik?

 Pulang, serba salah, semua ilmunya tidak kepake, sementara luar negeri mau make. Realistis, balik lagi dia ke luar negeri. Habibie, Habibie dulu pulang kalau Pak Soeharto tidak ngasih jabatan dan segala macem, nggak mau dia pulang. Orang dia sudah jadi orang nomor dua di perusahaan penerbangan, yang buat pesawat. Saya menemukan, banyak orang Indonesia yang pandai-pandai tapi dipakai sama luar negeri. Kalaupun pulang ke Indonesia, ya kurang fasilitas, kurang dukungan, pengetahuannya ngga kepake. Jadi kalau yang pulang ke Indonesia itu, saya hormat, mas. Demikian besar rasa cintanya kepada Indonesia. Sebenernya bisa saya yakin, Iwan Jaya Aziz itu sangat dihormati oleh Amerika. Indonesia itu kelemahannya, banyak penelitian cuma belum terpublikasi di jurnal internasional.

Harapan anda untuk penelitian ekonomi di Indonesia?

Penelitian di Indonesia harusnya fokus kepada ekonomi kewilayahan. Fokuslah kepada yang menjadi keunikan terutama wilayah Asia Tenggara, karena Indonesia itu boleh menjadi contoh bagi negara negara berkembang. Karena yang namanya publikasi, berbicara pada regional. Sebuah teori akan lebih bagus kalau di negara maju bilang A, di negara berkembang juga A. Tapi kan kita yakin bahwa itu ga mungkin, kalaupun A. Kalau ibarat di computer ada font, di negara maju itu fontnya Arial Black yang gede-gede, Indonesia mungkin Courier. Sama-sama A tapi Indonesia Courier, kecil.

Jadi, apa yang seharusnya Indonesia lakukan untuk paling tidak meningkatkan perekonomiannya?

Jadi menurut saya harusnya kita tuh fokus kepada penelitian yang dilakukan dan aplikatiflah. Mengembangkan model-model aplikatif karena perlu makan waktu itu. Hadiah nobel rata-rata, hasil dari budaya meneliti dari hasil penelitian yang usianya lebih dari 15 tahun dan yang konsisten di situ.Jadi orang Indonesia kalau mau menang hadiah, tetap di satu topik, terus dikembangkan sampai matang.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: