Posted by: Holdani R. | September 24, 2013

Apresiasi Buku Jurnalis, Jurnalisme, dan Saya

Gue lagi lagi ngebrowse folder-folder tugas gue, kemudian nemu tugas gue ini nih, menurut gue, mungkin akan bermanfaat kali ya, jadi gue share aja:

Apresiasi buku “Jurnalis, Jurnalisme dan Saya”

 

  1. Rangkuman

 

Bagian Pertama: Jurnalisme dan Kepentingan Publik

Negara, Istana, dan Wartawan

Arys Hilman

Hampir semua rumah tangga di Singapura berlangganan koran, tapi masyarakatnya enggan membaca isu politik. Mereka sejak dulu terkenal dengan ketertarikannya pada “5 C”, yaitu cash, car, credit card, condominium, dan country club. Belakangan muncul pula ketertarikan pada “1F”, yaitu family, namun politik bukan hal yang seksi.

Situasi serupa ditemui di Malaysia, hanya saja yang lebih menyita perhatian masyarakat adalah pertumbuhan ekonomi. Banyak hal tabu dalam politik. Andai ada isu politik besar, pers Malaysia akan mengambil posisi pada sisi pemerintah dan masyarakat dapat mengandalkan blog di internet untuk menyuarakan perbedaan.

Kebebasan pers di Indonesia sebenarnya tidak bagus-bagus amat. Setelah sempat menduduki peringkat 50-an pada masa awal reformasi, indeks kebebasan pers di Indonesia kian merosot. Sekarang bahkan terlempar dari jajaran 100 besar. Catatan hitam terutama datang melalui tangan masyarakat, lewat sejumlah kasus intervensi hingga pembunuhan wartawan. Tapi saat berhadapan dengan pemerintah dan pihak-pihak lain dalam struktur kenegaraan, pers Indonesia masih memiliki daya.

                Adapun negara dengan tingkat kebebasan pers paling tinggi adalah negara-negara Skandinavia. Pers Swedia, misalnya, selalu berada pada jajaran 10 besar terbaik dunia.

 

Jurnalis, Keberpihakan, dan Keselamatan

Sri Lestari

Ada perbedaan besar saat menjadi jurnalis BBC Siaran Indonesia dengan jurnalis di media berita lain. sebagai bagian dari organisasi media yang besar, kebijakan BBC Indonesia merujuk pada induknya di London.

Kebijakan itu termasuk tak hanya seputar bagaimana menuliskan dan memandang suatu peristiwa yang terjadi atau kebijakan editorial, tapi aturan lain yang mungkin dianggap sepele oleh media lokal. Contohnya, meliput anak-anak. Bukan hanya anak-anak korban kekerasan yang perlu disembunyikan identias aslinya, tetapi juga anak-anak sekolah. Di BBC, ketika meliput anak-anak, baru dapat dilakukan jika sudah medapatkan izin dari orangtua ataupun wali mereka. Salah satu alasannya adalah anak-anak merupakan kelompok yang harus dilindungi. Juga untuk mencegah tuntutan hukum dari orangtua karena anaknya diekspos media tanpa ijin.

Sejumlah kalangan aktivis anak-anak menyebut anak-anak sebagai kelompok yang rentan menjadi korban eksploitasi seksual atau sasaran kejahatan.

Aturan lebih ketat lagi jika anak tersebut merupakan korban kejahatan seksual atau tersangka pelaku kriminal. Anak-anak akan ditampilkan dari belakang atau wajahnya disamarkan sehingga identitas asli tidak diketahui publik.  Peliputan anak-anak di media lokal merupakan salah satu contoh yang menunjukkan masih banyak media lokal yang tidak sensitif tentang masalah etika.

Contoh lain adalah bagaimana media selama beberapa bulan terakhir ini sibuk berupaya mendapatkan wawancara dengan tersangka kasus korupsi, M Nazaruddin, dengan berbagai media komunikasi. Hampir semua media, terutama televisi, terkesan mempercayai ucapan Nazaruddin sebagai fakta yang sesungguhnya dan menganggap orang-orang yang disebut Nazaruddin memang terlibat dalam kasus korupsi.

BBC tidak mengizinkan jurnalisnya mewawancarai orang yang sedang mengalami kasus hukum, sebagai tersangka, terdakwa, atau terpidana. Alasannya cukup jalas, agar media tidak dijadikan “corong” atau dimanfaatkan demi keuntungan mereka.

Wawancara dalam penjara dengan salah seorang yang tersangkut masalah hukum sama sekali tidak diizinkan. Keterangan mereka terntunya dapat dikutip ketika persidangan berlangsung. Keterangan terdakwa bisa muncul ketika vonis sudah dijatuhkan majelis hakim, tetapi hanya sebatas diminta tanggapam atas putusan dan upaya yang akan dilakukan. Sangat hati-hati.

Kehati-hatian itupun juga dilihat dari pemilihan kata dalam pemberitaan sebagai salah satu bentuk upaya mengedepankan praduga tak bersalah.

Selain kebijakan editorial, perbedaan yang sangat dirasakan ketika bergabung dengan institusi media internasional adalah perlindungan terhadap keselamatan jurnalis dalam peliputan. Saat akan meliput bencana ataupun perang, harus mengisi formulir yang menggambarkan kondisi lokasi liputan dan kemungkinan ancaman bahaya yang akan dihadapi. Misalnya kecelakaan di perjalanan. Penyakit endemi, dan lain lain. Semua itu harus dibicarakan secara detil sebelum pergi liputan.

Pekerjaan jurnalis memiliki resiko cukup tinggi, bukan hanya ketika meliput di lokasi konflik, tetapi bahkan ditempat-tempat yang dianggap aman.

Tak banyak jurnalis yang memahami ancaman yang sebenarnya dihadapinya, bahkan pimpinan redaksi pun hanya sedikit yang memperhatikan keselamatan jurnalisnya. Para jurnalis seringkali dibebankan liputan yang disebut eksklusif tanpa memperhitungkan bahaya yang mengancam.

Giving voice to the voiceless. Walaupun ada sejumlah perbedaan, tetapi ada persamaan yang tidak berubah sejak dulu: dengan bekerja di media, memiliki keleluasaan untuk dapat memberikan ruang atau tempat bagi mereka yang terpinggirkan, mereka yang tidak punya kursi di Senayan dan pemerintahan; mereka yang terhimpit ditengah konflik. Walaupun hanya sedikit media yang menulis tentang mereka dengan perspektif yang tepat.

Jurnalis: Pembawa Kebenaran, Bukan Kebetulan

Rieska wulandari

Perbedaan antara bangku kuliah dan dunia kerja adalah: di kampus hanya perlu membuat satu feture per minggu, satu berita per minggu, dan satu tulisan mendalam selama satu semester.  Itu saja sudah sangat berat dan membuat sesak nafas. ternyata saat sudah menjadi seorang wartawan, bisa saja dalam satu hari harus membuat dua feature, lima berita, menyiapkan empat doto, dan satu artikel mendalam.

Mendapat kesempatan untuk melakukan liputan mengenai pembalakan liar di perbatasan Indonesia-Malaysia. Betapa Malaysia begitu pintar dalam mengeksploitasi Indonesia. Dan juga betapa mudah melewati perbatasan Indonesia-Malaysia, banyak cara-cara ilegal untuk melewati perbatasan, terutama dengan bantuan penduduk lokal.

Ia pernah bekerja untuk media Jepang, Jiji Press. Jiji Press memiliki ritme yang berbeda dengan media Indonesia. Disini mencari berita menjadi agak sulit karena tidak semua berita menarik di Indonesia secara otomatis menarik pula untuk pembaca di Jepang. Namun penulis ingat dengan pesan dari atasannya,

“Sekarang harus lepaskan frame berpikir yang lama dan mulai gunakan perspektif internasional dalam melihat situasi dan membuat pemberitaan. Belajar memiliki cara berpikir yang baru, tempatkan diri sebagai masyarakat internasional dan kamu akan memahami apa arti menjadi jurnalis yang sebenar-benarnya,” saat ditanya apa itu masyarakat Internasional, atasan penulis menjelaskan,

“ Manusia itu memiliki nilai-nilai yang universal, yaitu kebenaran. Kira ridak perlu pandang agama dan ideologi. Yang harus jadi patokan kita adalah kebenaran, yaitu ketika hukum dan keadilan ditegakkan. Orang bleh tidak punya agama dan tidak punya ideologi, tetapi tetap dalam batinnya dia ingin afar kebenaran dan keadilan ditegakkan. Nah, kita sebagai wartawan harus bisa melihat intisari itu. Lihat dan analisis. Ketika keadilan dan kebenaran tidak tefak, disitulah kita harus bergerak.”

Saat Indonesia digemparkan oleh Bom Bali 2, banyak masalah terungkap saat melakukan liputannya. Indonesia punya banyak masalah dan tugas jurnalis masih banyak.

Saat kontrak dengan Jiji Press habis, ia berpindah media ke Mainichi Shimbun. Atasannya berpesan,

“Jurnalis harus selalu memberitakan kebenaran. Jika berita di media benar, pemerintah dan masyarakat akan membuat kesimpulan dan keputusan yang membawa kebaikan untuk semua. Bila beritamu benar,  pemerintah dan masyarakat akan membuat keputusan yang membawa kebaikan buat semua. Bila beritamu salah, pemerintah akan membuat kesalahan fatal yang merugikan bangsa. Karena itu, bekerjalah sebagai reporter, bukan porter atau tukang angkut. Reporter adalah pembawa kebenaran, pembawa ide, dan pembawa terang,” ujarnya.

Setelah bekerja di dua media Jepang, penulis paham bahwa justru media-media Jepang yang menjadi raksasa dunia. Hal ini karena semua penduduknya membaca koran. Kenapa semua orang di Jepang membaca koran? Jawabannya

“Kalau transportasi tertata baik bangsa bisa lebih cerdas karena mereka bisa mengefektifkan waktu untuk membaca koran dan buku,”

Jurnalis harus giat menggali dan melakukan investigasi untuk melihat dan memahami apa sesungguhnya masalah yang dialami bangsa ini dan menjadi bagian dari penyelesaian. Karena, sekali lagi, jurnalis harus membawa kebenaran, bukan kebetulan.

 

Pemain yang Tiba-Tiba Mesti Jadi Wasit

Nursyawal

Tugas sebagai komisioner bidang isi siaran adalah tantangan besar terutama pada kemampuan untuk berpikir serta bertindak objektif dan adil. Sebab, sebagai komisioner, harus menilai sebuah perbuatan hukum lalu menetapkan keputusan apakah perbuatan itu melanggar atau tidak, serta apa tindakan hukum yang adil sebagai sanksi.

Selama menjadi praktisi, penulis menganggap publik selalu menerima apapun yang dibuat karena tema liputan yang dipilih merupakan hasil perenungan pribadi terhadap opini publik serta agenda utama publik yang aktual saat itu.

Dia begitu percaya, para jurnalis yang harus menjadi pengawas kekuasaan, hati nurani masyarakat, dan pembawa perubahan.

Pasal  6 UU 40/1999 yang menyebut peranan pers nasional sebagai berikut:

  1. Memenuhi hak masyarakat untuk mengetahui;
  2. Menegakkan nilai-nilai dasar demokrasi, mendorong terwujudnya supremasi hukum, dan Hak Asasi Manusia, serta menghormati kebhinekaan;
  3. Mengembangkan pendapat unun berdasarkan informasi yang tepat, akurat, dan benar;
  4. Melakukan pengawasan, kritik, koreksi, dan saran terhadap hal-hal yang berkaitan dengan kepentingan umum;
  5. Memperjuangkan keadilan dan kebenaran.

Meskipun ia mengagumi teknik produksi penyiaran anak-anak jaman sekarang yang mungkin terbantu karena begitu banyak software audio/video kurang itu bahkan editor canggih. Tetapi secara substantif,kemampuannya diragukan.

Terhadap karya jurnalistik, menurut UU Pers, tidak dikenai sensor dan pelarangan penyiarannya. Gambar-gambar yang mengerikan serta hasil rekayasa, dapat dibatasi. Anak-anak harus dilindungi dari dampak isi siaran radio dan televisi yang dapat mengganggu perkembangan dirinya.

Ia berharap, sudah ada seperangkar aturan isi siaran yang berkaitan dengan prinsip-prinsip jurnalistik yang dapar membantu teman-teman seprofesi meningkatkan pelayangan mereka kepada publik.

 

Media Literacy: The Unknown Area

Sanri Indra Astuti

Masuk dalam area media literacy merupakan untuk menebus “rasa bersalah”. Karena banyaknya sarjana ilmu komunikasi yang dihasilkan oleh pendidikan komunikasi ternuata tidak berbanding lurus dengan kualitas isi media.

Kurikulum dan konsentrasi perguruan tinggi harus diakui, memang melulu berorientasi pada bagaimana meningkatkan pasokan tenaga kerja guna memenuhi kepentingan industri. Tidak ada kepedulian sedikit pun kepada khalayak yang justru menjadi stakeholder utama. Semestinya Fakultas Ilmu Komunikasi punya andil disitu, bahkan mengemban tanggung jawab terbesar dalam gerakan media literacy.

Contoh pentingnya media literacy terlihat saat kasus smackdown yang ditayangkan di stasiun TV swasta, Lativi. Tayangan tersebut menelan korban jiwa. Tragedi Smackdown Lativi memperlihatkan dua hal penting. Pertama, adanya potret kemenangan publik. Ketika anggota DPR dianggap tidak punya taring, ketika KPI tak dianggap sama sekali, publik pun beraksi, dan menang melawan arogansi industri media massa. Kedua, smackdown sebenarnya bisa dicegah, andai sedari awal kita, atau masyarakat, tahu bagaimana berhadapan dengan media.

Banyak diantara program televisi mengandung unsur kekerasan. Berhubung televisi–sebagaimana media massa lainnya– menampilkan realitas secara simbolik, maka (dramatisasi) kekerasan yang direpresentasikann oleh televisi menjadi sebentuk cara untuk menaturalisasikan dalam kehidupan sehari-hari. Banyak penelitian berbasis analisis teks memperlihatkan kentalnya unsur kekerasan, sarat bias gender, penodaan terhadap prinsip-prinsip objektivitas, dan lain-lain.

Berita televisi yang mestinya lebih sensitif terhadap visualisasi kekerasan, justru terjebak dengan menjadikan kekerasan sebagai sajian utamanya. Televisi lokal, karena luput dari amatan kita, kadang malah lebih heboh lagi. Berita yang sarat bias gender? Inilah yang terjadi kalau televisi swasta nasional kita meliput penggerebegan panti-panti pijat atau lokalisasi, isi berita sepanjang tiga menit didominasi dengan rekaman kejar-kejaran antara aparat dengan wanita-wanita yang diduga sebagai PSK.

Permasalahan jurnalisme di media massa bukan hanya pada representasinya, tetapi juga pada lingkar-lingkar lain: discourse practice atau proses produksi teks, kompetensi SDM, ideologi media, ideologi pasar, sampai ideologi negara. Dari seluruh persoalan ideologi tersebut, yang tidak jelas bentuk maupun pengaruhnya adalah ideologi negara. Sementara yang paling jelas menyetir produk-produk media adalah ideologi pasar yang salah satunya adalah penghambaan terhadap rating!

Secara konseptual, media literacy adalah “Kemampuan untuk memperkirakan, menganalisis, mengevaluasi, dan menciptakan media.pengembangan pemikiran kritis dan kecakapan-kecakapan produksi dibutuhkan untuk bertahan secara penuh dalam budaya media abad 21.” Juga didefinisikan sebagai “Kemampuan untuk berkomunikasi secara kompeten dalam semua bentuk media, cetak dan elektronik seperti halnya untuk mengakses, memahami, dan menganalisis serta mengevaluasi citra yang sangat kuat, kata-kata dan suara yang mempoerbaiki budaya media massa kontemporar kita”

Media literacy bertujuan membekali khalayak kemampuan untuk menggunakan media secara sehat, masuk akal dan memanfaatkannya sesuai dengan kepentingan, membangkitkan daya kritis masyarakat ketika berhadapan dengan media, dalam jangka panjang, menangkal dampak negatif media dengan membekali khalayak kemampuan untuk self-reflection, self-filtering, dan self-empowering. Mampu menimbang dan menyaring sendiri, serta memberdayakan diri di depan media.

Media literacy bekerja dengan mekanisme virus-antivirus. Istilah media literacy dalam bahasa Indonesia cukup beragam: melek media, sadar media, paham media, tetapi banyak pihak yang memilih istilah literasi media supaya pemaknaannya tidak keluar jalur.

 

Bagian Kedua: Integritas Wartawan.

Jurnalisme si Kancil

Yayu Yuniar

Menjadi koresponden sebuah media asing berarti meliput satu wilayah luas dengan potensi berita yang beragam dengan sedikit bantuan. Penulis pernah bekerja untuk surat kabar terbitan Amerika Serikat, The Washington Post. Papua menjadi sesuatu yang menantang bagi jurnalis asing yang ditugaskan di Indonesia. Keahlian wartawan lokal menjadi ujung tombak keberhasilan peliputan di Indonesia. Disetiap tempat, memiliki fixer lokal. “Who is who, why this and that important.”

Dia menceritakan pengalamannya saat berada di Papua, dimana dia kesulitan dengan pribumi yang ‘kurang’ menyukai kehadiran wartawan asing dan menuduh sang fixer berbuat yang buruk.

Diantara banyaknya media yang pernah menjadi tempat bernaung penulis, Washington Post memang memiliki paling banyak cerita yang layak dikenang. Disana penulis belajar bahwa tidak ada yang tidak mungkin dalam menggali informasi. Jurnalisme menjanjikan ruang belajar yang tak putus-putus.

Pada akhirnya, jurnalis yang andal adalah jurnalis berintegritas. Mereka jujue, objektif, gigih, dan profesional, teknik dan kelihaian akan terasah seiring pengalaman dan waktu.

Mengenal Diri dalam Kelebatan Waktu

Siska Widyawati

Penulis menceritakan pengalamannya saat bekerja di media asing. Sudah menjadi standar media asing untuk mendapatkan dokumen sebelum berstatus resmi. Dia bekerjasama dan berteman dengan wartawan media lain.

Dengan menjadi seorang jurnalis, ia mendapat kesempatan untuk berkeliling tempat-tempat asing yang belum pernah dikunjungi, atau pun hal-hal baru yang belum pernah dilakukan sebelumnya. Ia pun belajar hal-hal baru. Seperti memberitakan isi konferensi sebelum konferensi berlangsung. Juga belajar menangkap dengan cepat, melaporkan dengan akurat, menulis dengan tepat, bergerak tanpa teori, terkadang hanya naluri yang menuntun. Dan saat waktu begitu pendek, terkadang hanya melaporkan apa yang dituntun indera.

Tak Puas dengan Berita, Narasumber Menginterogasi

Media Sucahya

Penulis menceritakan kisahnya saat bekerja sebagai jurnalis pada jaman Orde Baru. Di jaman tersebut, pemerintah kurang ramah pada pers. Kebebasan pers dibatasi dengan adanya SIUPP yang dikeluarkan Departemen Penerangan dan izin cetak yang dikeluarkan pangkobkamtib (Panglima Komando Keamanan dan Ketertiban).  Bila pers dinilai melanggar, maka SIUPP bisa dicabut. Dengan kata lain, penerbitan pers tersebut di breidel.

Saat menulis berita yang berkaitan dengan salah satu jendral yang ada hubungannya dengan penguasa saat itu, Ia dan teman-temannya dipanggil ke markas militer dan ditanyai macam-macam. Sang jendral menganggap berita tersebut adalah ‘pesanan’ dari lawan politiknya.

Dari kasus itu lah terlihat betapa tidak bebasnya pers pada jaman itu. Sebenarnya kisah ini terlalu kecil untuk diangkat. Masih banyak pengalaman-pengalaman jurnalis lain yang sama-sama berbobot. Tapi setidaknya kisah ini memberikan sedikit perspektif tentang perilaku sebuah rezim terhadap kebebasan pers.

Media itu Aku: Sekelumit Ingatan dari Catatan Harian

Hawa Setiawan

Feature adalah berita dibawah permukaan; featura adalah bayang-bayang kebenaran yang tak selalu kita cermati tapi turut mempengaruhi diri kita; feature adalah jagat misterius di sisi lain pegunungan dan segala orang juga tempat seta perkara menakjubkan yang sungguh kita ketahui, bahkan sekiranya kita belum mengetahuinya.”

Ada tiga hal yang perlu ditekankan, Feature adalah salah satu bentuk komposisi jurnalistik yang memiliki karakteristik dan gaya bentuk penulisan tersendiri. Gaya menulis feature yang baik ditopang oleh kreatifitas yang baik pula dari jurnalis. Ketiga, ditengah jagat jurnalistik Indonesia hari ini, yang antara lain ditandai kian banyak dan beragamnya media berita, kehadiran karya-kary jurnalistik berbentuk feature dapat mengingatkan kembali masyarakat luas akan pentingnya mengelola dan mengisi media jurnalistik secara kreatif demi terpeliharanya kesadaran kolektif akan berbagai gejala yang timbul dalam kehidupan manusia.

Feature yang baik adalah jalan tersendiri ke arah pemahaman dan penghayatan atas masalah kemanusiaan, yakni sesuatu yang secara teknis sering disebut sebagai human interest.

Milan Kundera mengatakan bahwa kini orang kian tak tuntas memikirkan satu perkara sebab tiap saat benaknya digedor-gedor oleh rupa-rupa perkara yang tiada hentinya susul0menyusul silang susup menyesakkan media berita. Situasinya sungguh paradoks: justru ketika informasi kian melimpah, orang seakan kian tak sanggup memahami apapun.

Tiga gejala perubahan jurnalistik yang begitu kentara. Gejala pertama memperlihatkan bahwa membaca itu menulis dan sebaliknya. Gejala kedua memperlihatkan bahwa jagat sosial itu kian personal dan sebaliknya.Gejala ketiga memperlihatkan pijakan lokal dengan jangkauan global.

Aristoteles mengingat tiga hal yang terpaut satu sama lain: inventio yang berurusan dengan upaya merumuskan argumen, elocutio yang berurusan dengan upaya mencari style, dan compositio yang berurusan dengan upaya memilih bentuk karangan. Singkatnya, retorika membantu kita dalam upaya merumuskan gagasan, menimbang-nimbang cara penyampaian gagasan, dan mengolah wadah yang tepat bagi gagasan.

Manakala jurnalis mengabaikan tiga hal itu, ia berarti sedang melakukan misi bunuh diri bahkan bisa membunuh orang lain. Kelangsungan hidup jurnalisme, tak terkecuali yang terbilang alternatif, akan ditentukan oleh sejauh mana jurnalis mengidahkan ketiga matra retorika itu.

Bagian Ketiga: Manajemen Media

Alhamdulillah it’s Friday

Hagi Hangromo

Disini penulis menceritakan pengalamannya membangun sebuah majalah baru berkonsep islam. Saat itu penulis bekerja di sebuah perusahaan yang memayungi penerbitan FourFourTwo Indonesia (FFTI). Disaat yang bersamaan, penulis ditawari kerja sama membuat majalah  baru. Majalah tersebut bertemakan  smiling islam. Saat itu kebetulan perusahaan yang menaungi penulis sedang dalam keadaan yang kurang baik.

Akhirnya penulis memutuskan mengundurkan diri dari perusahaan asal tempatnya bernaung dan memilih untuk fokus di majalah baru. Namun majalah baru (yang bernama AliF, kependekan dari Alhamdulillah it’s Friday) mengalami masalah. Di majalah baru tersebut, tidak terlalu jelas apa tujuannya, apakah bisnis, atau kah syiar, sehingga sulit untuk menentukan prioritas. Ahirnya penulis mengundurkan diri karena merasa tak juga menghasilkan revenue bagi perusahaan.

Diujung tulisan ini, penulis ingin mengevaluasi diri. Bahwa pengakuan atas karya redaksi yang baik, tak cukup untuk menjalankan sebuah penerbitan. Perlu diimbangi dengan strategi yang tepat pada divisi usaha, agar semuanya bisa terbadani dengan benar. Jika satu sisi tidak berjalan baik, maka sisi satunya tidak bisa berdiri sendiri.

 

Sampai Jumpa, Advertorial…

Nigar Pandrianto

Salah satu konsekuensi industrialisasi pers ialah semakin pentingnya kehadiran iklan di surat kabar maupun majalah. Ini yang diistilahkan sebagai advertising driven. Surat kabar tidak dapat lagi mengandalkan sirkulasi maupun loyalitas pembaca, melainkan bergantung pada iklan.

Biasanya ada beberapa cara-cara yang dilakukan perusahaan agar medianya bertahan. “Cara paksa” untuk menghindari penurunan penjualan media. Mereka memaksa agen untuk emnjual juga media-media yang kurang laku. Cara kedua adalah menerapkan kebijakan “no return”. Agen tidak boleh mengembalikan media-media yang diambil. Hal ini semakin memperlihatkan betapa jelasnya penurunan minat orang pada koran.

Menghadapi kenyataan ini, kreativitas media memegang peranan penting. Mereka harus menemukan cara-cara inovatif untuk mengambil kue iklan. Adu kreatifitas, adu konsep, maupun adu ide menjadi warna diantara penulis iklan (copywriter) agar pengiklan mau membeli space iklan.

Ada satu hal yang menurut penulis menjadi sangat penting bagi penulis naskah iklan di media, yaitu memikirkan kebutuhan pembaca.

Karena itu, memikirkan kebutuhan pembaca, mencari korelasi dengan keseharian pembaca, mendekatkan dengan masalah-masalah pembaca, akan membuat sisipan-sisipan sejenis ini lebih diperhatikan dan lebih memberikan manfaat untuk pembaca.

Jangan biarkan pengiklan atau pihak sponsor semena-mena menentukan isi. Kita punya otoritas untuk menentukan isi. Tentu saja kita harus tetap bertanggungjawab dengan meyakinkan pengiklan bahwa kepentingan mereka tetap terakomodasi didalamnya.

Pendeknya, seiring perubahan-perubahan yang terjadi di dunia pers dan komunikasi pemasaran, seorang copywriter dituntut untuk lebih kreatif. Ini dilakukan agar kesempatan-kesempatan baru tercipta, sehingga surat kabar maupun majalah dapat tetap menjalankan fungsinya ditengah masyarakat.

 

Menguji Nyali di Ranah Digital

Irfan Juniaidi

Penulis menceritakan pengalamannya saat mengalami pemindahan kerja, yang semula bekerja di koran, menjadi bekerja di harian online, meskipun masih satu manajemen. Penulis mengalami kesulitan karena memang sedari awal merasa tidak nyaman dengan pemindahan kerja tersebut. Hingga suatu hari penulis meminta tips dari temannya yang lebih ahli dibidang online.

Tidak banyak tips maupun trik  yang dia sampaikan. Justru pesan sangat mendasar yang dia beberkan dalam kesempatan makan malam sederhana waktu itu, “kamu mesti luruskan dulu perasaanmu. Kamu anggap posisimu sekarang ini sebagai tantangan atau tempat pembuangan?” tanya dia saat itu.

Ia mulai berusaha membangkitkan harian online yang diamanahkan kepadanya. Karena itu lah ia kemudian berpikir untuk menentukan titik pijan Republika Online.

Bila kita berusaha, tidak ada yang sia-sia. Itu yang penulis percayai, semua usahanya tidak sia-sia, Republika Online mulai bangkit. Di akhir waktu, target untuk melipatkan kunjungan bisa tercapai.

 

Bertahan sebagai Koresponden

Adi Marsiela

Kemajuan teknologi seharusnya memberi peluang untuk para koresponden. Masing-masing media berlomba-lomba melengkapi diri dengan layanan berita secara online. Kenyataan dilapangan, wartawan berusaha mendapatkan berita sebanyak-banyaknya, terutama mereka yang bekerja dengan status korespinden atau kontributor. Kondisi ini secara tidak langsung berdampak pada proses peliputan. Akhirnya melahirkan ritme tidak sehat antar kontributor dan koresponden. Tidak jarang sesama koresponden dan kontributor melakukan kloning berita.

Sangat ironis. Setiap perusahaan pasti meminta wartawannya untuk bekerja profesional. Tidak ada perbedaan jenis pekerjaan yang harus dilakukan oleh seorang wartawan yang jadi karyawan tetap dengan seorang wartawan yang statusnya hanya koresponden atau kontributor. Seharusnya perusahaan media  memberikan upah yang sama untuk seluruh wartawan.

Ironisnya, organisasi kewartawanan seperti Aliansi Jurnalis Independen masih memandang sebelah mata terhadap wartawan yang menyandang status koresponden dan kontributor. Program kerja yang gencar digalang sekarang ini adalah pendirian serikat pekerja di berbagai perusahaan media.

Beda perusahaan media, beda pula cerita serikat pekerjanya. Sebut saja sikap sebuah media elektronik yang terbilang mengedepankan berita hak asasi manusia dan nasib mereka yang terpinggirkan ternyata berlaku beda untuk koresponden mereka yang ada di daerah.

Secara tidak sadar, kesamaan nasib antar koresponden ini menjadi pemersatu rekan-rekan sesama koresponden dan kontributor.

Karya jurnalistik memang tidak bisa ditawar atau dihargai dengan uang. Namun tidak tertutup peluang untuk bersinergi. Sehingga hak masyarakat untuk mendapatkan informasi tetap ada dan pemodal pun tidak kehilangan investasi.

Bagian Keempat: Meliput Konflik

Minus Rencana ke Jalur Gaza

Ismail Fahmi

Penulis membagi pengalamannya saat meliput keaadaan di jalur Gaza, Palestina. Stasiun televisi berita tempat penulis bernaung merupakan stasiun televisi berita yang masih sangat muda (TV One berdiri pada 14 Februari 2008). Keputusan memberangkatkan penulis tersebut terbilang sangat revolusioner saat itu.

Ia berangkat ke lapangan berdua dengan seorang rekan, yaitu Fitra Ratory. Untuk beban peliputan yang cukup berat, keputusan tersebut sangat tidak biasa. Pasalnya, tim tidak disertai camera persons. Kebetulan penulis dan rekannya sama-sama mampu mengoperasikan kamera. Diharapka, penulis dan rekannya mampu berperan sebagai reporter sekaligus mengambil gambar, selain jika diperlukan dapat pula dipecah meliput lokasi yang berbeda. Bagi penulis, lugas peliputan kali ini merupakan come back ke lapangan setelah cukup lama “tertidur pulas”.

Keberangkatannya ke jalur Gaza sebenarnya kurang persiapan. Ia belum melakukan riset mengenai keadaan di lapangan karena keterbatasan waktu. Penulis sedikit kesulitan juga karena ini pertama kalinya penulis dituntut bersiaran langsung dengan menyiapkan teknis operasionsl secara mandiri.

Untuk masuk ke lapangan bukanlah hal yang mudah. Mulai dari pengurusan visa yang berbelit-belit dan rumit, keadaan perbatasan jalur Gaza yang tidak stabil, hingga puluhan pos-pos jaga yang ketat –terutama untuk wartawan.

Penulis pun mendapat kesulitan dengan buruknya jaringan internet, sementara sistem siaran langsung berbasiskan internet. Selain itu, cuaca dingin menjadi tantangan tersendiri. Penulis yang lahir dan besar di daerah tropis mengalami kesulitan untuk beradaptasi. Udara yang dingin tersebut itu berpengaruh pada kesehatan badan. Selain itu yang membuat penulis kesulitan adalah kondisi sosial politik Mesir. Polisi seperti ada hampir di setiap jengkal kota, dan itu membuat kesulitan mengambil gambar dengan bebas.

Keadaan di lapangan begitu buruk hingga dia pun kehabisan padanan kata untuk menggambarkan dahsyatnya bom yang penulis saksikan langsung. Penulis sempat mengira ketinggalan rombongan karena tidak melihat jurnalis lain. Itu membuat penulis kebingungan mencari cara untuk melewati perbatasan. Akhirnya penulis memilih menumpang angkutan pembawa bantuan medis. Ternyata penulis merupakan jurnalis pertama yang sampai ke lapangan. Jurnalis lain masih ada di pos pemeriksaan dan tertahan disana.

Selama berada di Gaza, penulis menginap di tempat yang berbeda-beda. Nomaden. Disana dia bertemu dan mewawancarai Fauzi Barhoum, orang ketiga terpenting di Hamas. Pertemuan khusus dengan Fauzi Barhoum adalah satu dari banyhak cerita menarik dan mengesankan selama di Jalur Gaza. Tugas jurnalistik terkadang memang tak perlu rencana matang. Ikuti saja alurnya, mainkan perannya, dan lihat hasilnya.

Senyum Sang Komandan

Galuh Pangestu

Penulis membagi kisahnya saat meliput daerah konflik di Filipina, setelah sebelumnya menjadi wartawan investigasi. Ketika akan berangkat, riset mendalam penulis lakukan bukan hanya dengan membaca berita ataupun sejarah konflik secara lengkap, namun dengan mengontak akademisi yang terlibat langsung proses perdamaian.

Ketika bertemu dengan stakeholder konflik, mereka akan lebih menghargai jika jurnalis punya pemahaman dan pandangan yang utuh mengenai konflik. Jurnalis akan mendapat kepercayaan dan akan lebih mudah melobi untuk mendapatkan akses liputan penting. Hal lain yang penting adalah jaringan. Jalan awal pencarian data terbuka melalui jaringan-jaringan yang kita miliki. Jaringan terbentuk dari mana saja.

Liputan harus bersumber pada dua atau lebih stakeholders konflik yang menghasilkan irisan perspektif pihak-pihak yang terlibat. Rangkaian transisi yang menggabungkan cerita lain juga tidak boleh luput. Sebagus apapun liputan, jika tidak ada kontinuitas, tak bisa dinikmati. Kompleksitas konflik harus dihadirkan menjadi sebuah storytelling yang tidak berat dan tidak membosankan tanpa harus menyederhanakan.

Dalam liputan konflik, penulis mengindari perspektif menang-kalah karena itu merupakan elemen jurnalisme perang, bukan jurnalisme damai seperti yang diinginkan penulis. Yang selalu penylis utamakan adalah efek dari konflik seperti korban-korban sipil yang mengungsi, penulis lebih terfokus pada anak-anak korban perang. Selain karena beauty shot, kondisi anak-anak dalam konflik sudah bercerita banyak sehingga tidak perlu didramatisasi. Selain itu yang sebaiknya dicermati adalah keadaan sosilkultural daerah tersebut.

Selain itu, penulis juga menceritakan kisahnya saat meliput di pedalaman hutan di pulau Jolo, sarangnya para milisi MNLF. Dengan bantuan rekan yang asli orang Filipina dan seorang Profesor yang merupakan pemegang kunci tempat kantung-kantung separatis berada. Dari Profesor itu pula penulis dapat bertemu dengan komandan kelompok MNLF, Khaber Malik, yang merupakan buronan karena telah menculik orang penting di Filipina.

 

Bagian Kelima: Pernak-Pernik di Lapangan

Jurnalisme dan Sinema : Romantisme Berkali-kali

Bobby Batara

 

Dibesarkan di Lingkungan militer, tidak bikin penulis tertarik untuk menjadi orang-orang berseragam. Ia lebih tertarik pada tokoh-tokoh fiksi yang kebetulan berprofesi sebagai wartawan macam Tintin atau Lupus.

Sedikit sekali media yang bisa dijadikan panduan kritik atau pemberitaan, lebih-lebih yang mendukung perkembangan film nasional. Penyebab dari kondisi ini adalah tidak ada media yang secara khusus menulis laporan atau kritik terhadap film  Indonesia, Masalah rotasi. Proses ini mengurangi individu untuk menjadi wartawan film

Untuk menjadi seorang kritikus harus paham-paham teori-teori di bangku kuliah. Menjadi seorang publisis bukan sekedar membuatkan rilis film pendek yang kelak disebarkan ke berbagai media juga memberikan konsultasi langkah-langkah yang perlu dilakukan dalam proses promosi film. Atas nama romantisme, kesetian pada profesi ini memang merupakan tantangan dan godaan untuk meninggalkan profesi ini.

 

 

Susah dan (Mudah-mudahan) Senang Jadi Jurnalis Lifestyle

Yudhanti Budi

Penulis bekerja di majalah Fit (di bawah naungan femina group). Bidang liputan umumnya adalah seputar kesehatan, diet dan nutrisi, fitnes, dan kecantikan. Sebagai reporter majalah, ia juga bertanggung jawab terhadap foto artikel.

Tantangan yang didapat dalam jurnalis lifestyle yaitu harus mengenal istilah-istilah kedokteran, fitness, nutrisi yang njlimet, lalu menuliskannya dengan bahas yang lebih popular dan mudah dimngerti. Dalam sesi pemotretan terkadang terjadi kesalah sehingga harus melakukan pengulangan yang merupakan dua kali kerja.

 

Meliput, Ya; Berhaji, Ya

H. Sarnapi

Bagi seorang pewarta, pengalaman meliput haji maupun umrah merupakan kenikmatan tiada tara. Lelah tak terasa. Apalagi Mekkah dan Madinah merupakan dua kota suci yang hidup selama 24 jam!

Penulis melaksanakan umrah tahun 2002 menjadi “wakil pembimbing” di Megacitra. Lalu awal 2005 melaksanakan ibadah haji bersama dengan istri untuk melaksanakan tugas dari Pikiran Rakyat dilanjutkan dengan umrah pada pertengahan 2005 menjadi “asisten pembimbing” di Qiblat Tour. Terakhir, pada 2006 berangkat umrah bersama Amwa.

Penulis harus pintar pintar menemukan jalur pengiriman berita. Tidak ada warnet di Mekkah atau Madinah waktu itu. Tidak ada gadget sekelas Blackberry yang memudahkan dalam pengiriman. Akhirnya tak jarang cukup dengan pesan pendek atau petugas kantor dari bandung menghubungi penulis.

 

Wartawan Juga Harus Pintar  “Berperan”
Resi Fahma Gustiningsih

Menurut penulis, liputan adalah sekolah gratis dengan selalu ada pelajaran baru yang terbayangkan .Dan menurutnya wartawan adalah profesi yang kompleks namun begitu sederhana. Kompleks karena harus mampu berperan sebagai apapun dan memposisikan diri dengan tepat. Namun, menjadi sederhana ketika tujuan kita adalah belajar sehingga terasa menyenangkan dan menantang.Terkadang juga kita harus dapat berperan menjadi siapapun untuk mengelabui narasumber yang khususnya benci terhadap wartawan dan mencoba melakukan kekerasan terhadap profesi ini.

 

 

Bisa “Keliling Dunia” Gratis

Achmad Setiyaji

Dalam ceritanya penulis banyak menyampaikan bahwa dengan sejumlah trik dan semangat menggelora, profesi jurnalistik telah mengantarkannya “keliling dunia” dengan cara “murah” dan “meriah”. Disini juga sedikit menyinggung seberapa berani kita mengambil resiko yang akan dihadapi untuk mendapatkan yang diingankan, penulis berani mengambil resiko untuk tidak mengurus asuransi pada penerbangannya ke tempat konflik yang memungkinkannya tewas dan pulang hanya nama saja.

 

 

Dasi Kupu-kupu dan Bulu Dada

Budi Suwarna

Penulis mengatakan bahwa sebagai wartawan, dia mesti punya banyak perspektif untuk melihat sebuah persoalan.Dan, wartawan bisa memiliki banyak perspektif jika dia belajar dan tidak malas menyelami persoalan. Penulis juga mengatakan bahwa gaya hidup adalah arena pertarungan banyak kepentingan dan ideologi dan berusaha menjaga jarak dari isu yang dia liput.Ketika penulis di arahkan pada dua fakta yang berbeda, kemiskinan dan kekayaan yang menjadi realita hidup, dan dia harus menjaga jarak dari isu yang diliput untuk menunjukkan keprofesionalisan dirinya.

 

 

Bagian Keenam: Wartawan, Humas, dan LSM

Merenungkan Lagi “Love and Hate Relationship” itu

Chrysanti Tarigan

Hubungan dengan media merupakan tulang punggung (backbone) dan salah satu elemen penting dalam mencapai tujuan dari strategi komunikasi. Tanpa hubungan baik dengan media, tidak akan lahir sebuah berita positif. Namun, hubungan antara “cinta dan benci”, hubungan yang saling membutuhkan namun di sisi lain dapat menjadi bumerang bagi keduanya.

Penulis memutuskan untuk masuk ke dunia public relations di sebuah agensi PR sebagai senior consultant setelah mundur dari The Jakarta Post. Hubungan wartawan dengan seorang public relations officer kerap menjadi bahan perbincangan. Selain hubungan harmonis, kesalahpahaman sering terjadi.

Bagi penulis, satu hal yang secara prinsip tidak dapat dielakkan dalam hubungan dengan media, wartawan butuh berita dan klien kami butuh diberitakan. Prinsip kedua adalah menghormati profesi masing-masing.

 

Jurnalistik di Mata Praktisi Humas

Riniwaty Makmur

Penulis termasuk sebagian dari lulusan jurnalistik yang menyebrang ke profesi humas. Media massa, menurut penulis tidaklah berbeda dengan bisnis jenis lain yang hanya mencari keuntungan dan sensasi.

Sebagai orang yang bekerja di luar jurnalistik tapi sering berintraksi dengan jurnalistik, penulis berpendapat media melihat business is always bad or wrong. Media hanya melihat hitam dan putihnya sebuah bisnis. Sikap tidak “take and give” terhadap kolega bisnisnya. Ketika jurnalistik dibantu oleh klien humas, sang jurnalistik tidak menghasilkan apa-apa ataupun menghasilkan tapi tidak berterimakasih sama sekali. Media juga suka dengan yang namanya “sensasi”. Ketika seorang spokerperson berkata-kata, maka jurnalistik akan mencari padanannya menjadi berkesan lebih keras, dan lebih negative di dalam laporan yang diterbitkan media.

 

 

Meliput “Cabe Rawit” untuk Liputan 6 SCTV

Dani Hamdan

Dalam pengambilan sebuah liputan tidaklah mudah, banyak sekali kendala yang diterima dari narasumber hingga disiarkan. Beberapa contoh kendala penulis dalam pengambilan sebuah liputan “cabe rawit” seperti narasumber yang tegang, pengambilan angel yang harus pas, lingkungan yang tidak sesuai, kendala kaset video yang harusnya siap disunting namun rusak sehingga harus melakukan pengambilan ulang dan harus memasang janji kepada beberapa narasumber yang khususnya cukup sibuk. Namun hasil dari liputan yang dikerjakanpun mempunyai dampak positif bagi kalangan narasumber maupun peliput.Dari contoh dijelaskan bahwa si narasumber mendapatkan usahanya diliat public dan si peliput mendapatkan kerjaannya selesai.

 

Melacak Jejak Ibeuna:

Another (style of) Journalism Is Possible…

Beni Antono

Ada kalanya nama atau inisial para jurnalis tidak tercatat sama sekali. Ini hal yang lumrah, terkadang.Sebagai contoh, ibarat bekerja mewakili lembaga/korporasi – yang membuat corporate report.Jurnalis diharapkan membuat laporan yang tidak ‘kering’, tetapi menyajikan laporan yang ‘bunyi’ dari peristiwa yang dilihatnya. Hasil “liputan” itu siap dijadikan “untaian pembelajaran” inspiratif yang tak sekadar mengangkat mereka menjadi local champion, namun juga demi tujuan utama, mencari temuan otentik, bahwa sejatinya, people voice never goes wrong?Ada beberapa hal yang terkadang dilupakan, bahwa jurnalis tidak hanya sekedar menulis laporan, mereka juga memeriksa, mensupervisi pekerjaan orang lain, para rekan sejawat.Tujuannya adalah untuk memverifikasi dan memvalidasi laporan tersebut.

Dalam situasi pasca gempa, kunci seorang jurnalis dalam menangani krisis  tak ubah seperti mengelola ekspektasi. Dalam pengelolaan isu, masyarakat penerima manfaat (beneficiaries) dan public menginginkan perubahan secara cepat-instan. Hal ini memicu jurnalis untuk bertindak cepat.Tetapi, pemikiran seorang jurnalis tidak selalu sejalan dengan jurnalis atau pihak lainnya yang bertujuan menyajikan informasi. Ada keadaan dimana rekan-rekan media lebih sibuk dengan agenda setting mereka sendiri, tidak peka akan rasa kepantaan yang hidup dalam masyarakat, saling bersiasat, dan saling berebut panggung wacana publik.

  1. Apresiasi

 

Buku “Jurnalis, Jurnalisme, dan Saya” ini berisi tentang cerita-cerita alumni jurnalistik Fikom Unpad yang sudah bekerja. Cerita-cerita yang disampaikan menurut saya cukup menarik. Kita dapat mengetahui bagaimana kondisi lapangan tempat kita akan bekerja nanti sebagai seorang wartawan, walaupun tidak semua cerita disini menceritakan kehidupan wartawan, ada yang menceritakan profesinya sebagai humas.

Sebenarnya menjadi wartawan bukanlah keinginan saya ketika saya masih duduk di bangku SMA dulu. Setelah menuliskan Fikom Unpad pada pendaftaran SNMPTN, saya melihat jurusan jurusan yang ada di dalamnya. Saat itu saya memutuskan untuk masuk Jurnalistik. Semakin kesini, saya semakin yakin ingin menjadi seorang wartawan. Apalagi setelah membaca buku JJS ini.

Kisah pertama yang ingin saya bahas adalah tentang penampilan wartawan, dalam cerita pertama diceritakan bagaimana PM Singapura tidak senang dengan wartawan yang tidak rapih atau tidak mengikuti peraturan yang sudah ditetapkan, dalam hal ini untuk penampilan. Jadi mitos bawa penampilan wartawan itu kucel sebenarnya sudah seharusnya hilang. Ketika melakukan liputan, sebaiknya wartawan mempersiapkan penampilan mereka sesuai dengan kondisi yang akan mereka hadapi, akan mungkin lebih baik jika menyiapkan “kostum” ekstra. Jangan sampai hanya karena masalah penampilan, kita gagal untuk melakukan liputan.

Dari kisah yang lain ingin mengatakan bahwa menjadi wartawan itu tidak mudah, tentunya semua orang tau itu. Dalam buku di ceritakan bagaimana seorang wartawan menyusuri hutan kalimantan yang gelap dan sepi, ada angkot tetapi harganya sangat mahal, juga perjalanan panjang yang membuat sang wartawan kena cacingan. Bagaimana wartawan tesebut harus berhadapan dengan suku tradisional yang melakukan perburuan paus dan didesak oleh LSM untuk beralih profesi, padahal berburu paus adalah cara mereka untuk mempertahankan hidup, dan tidak pernah lebih dari 50 ekor setahun, hal itu membuat sebuah pertikaian dalam hati. Kita tidak tahu mana benar dan mana yang salah hanya dengan sekali atau dua kali melihat atau mendengar, kita harus melakukan investigasi untuk dapat mengetahuinya.

Melakukan investigasi atau penelusuran juga tidak dilakukan sembarangan. Harus ada persiapan yang matang dan rencana yang cerdik seperi dalam cerita Jurnalisme si Kancil. Si penulis sudah mempersiapkan beberapa hal jika terjadi sesuatu kepada ia dan rekannya, ia menyebutnya surat sakti. Dalam prosesnya, penelusuran liputan tidak berjalan dengan lancar, mereka dikepung oleh warga papua yang marah akan kedatangan mereka. Si wartawan pun mengancam mereka dan berhasil lolos, dan akhirnya liputan pun sukses tanpa menggunakan surat sakti.

Setelah membaca cerita tersebut saya jadi ingat teknik permainan kartu, atau permainan apa saja, bahwa sebisa mungkin “Kartu As” jangan dikeluarkan, kecuali benar benar dalam keadaan yang sangat mendesak. Selain itu juga wartawan harus memiliki pengetahuan yang luas tentang daerah atau lokasi yang akan mereka liput, seperti siapa pemimpin setempat, bagaimana kondisi medan yang akan dituju dan kondisi sosial penduduk setempat.

Jika liputan yang ingin dilakukan adalah liputan berita terduga, seperti yang ditulis oleh Syarifudin Yunus dalam bukunya “Jurnalistik Terapan”, ada beberapa yang perlu diperhatikan oleh wartawan.

  • Mempersiapkan rencana liputan yang optimal. Topik berita perlu digali secara produktif, kreatif dan kritis.
  • Liputan harus dapat dipertanggungjawabkan dan transparan
  • Memiliki catatan liputan yang jelas, akurat, dan kontekstual.

Hal lain yang mungkin penting adalah bagaimana kita membangun hubungan dengan wartawan media lain. Persahabatan penulis cerita “Mengenal Diri dalam Kelebatan Waktu” dengan wartawan lain menghasilkan hubungan mutualistik.

Wartawan juga harus siap menerima apa saja yang datang kepada mereka lakukan. Seperti di buku, tertulis bagaimana pihak majalah Info Bisnis yang menurut saya diancam oleh pihak korps selagi mereka diinterogasi. Mereka harus mengambil keputusan cepat untuk apa yang akan dilakukan selanjutnya, karena bisa saja pihak korps itu melakukan tindakan yang sangat tidak menyenangkan bagi mereka. Atau seperti penugasan meliput perang di jalur gaza.

Dalam hal ini juga termasuk dapat menerima kondisi lapangan yang berbeda dari yang sudah direncanakan atau diperkirakana. Syarifudin menambahkan, kemampuan dasar yang harus dimiliki oleh wartawan dalam melakukan liputan berita tak terduga diantaranya:

  • Kepekaan berita yang tajam
  • Daya pendengaran berita baik
  • Pengembangan daya penciuman berita yang kuat
  • Wawasan berita ke depan yang jelas dan luas
  • Memliki panca indera yang mahir untuk keperluan berita
  • Memperkaya pengalaman berita dari lapangan

 

Dalam buku ini juga dikisahkan dalam dunia jurnalisme, kompetisi itu terdapat dimana-mana. tidak hanya untuk wartawan saja, namun juga untuk wartawan yang berstatus koresponden atau kontributor, karena mereka semua ingin mendapakan pendapat yang banyak dari hasil berita mereka yang dimuat di media.

Secara keseluruhan, buku ini enak untuk dibaca, dan menurut saya penting. Terutama bagi mahasiswa program studi jurnalistik seperti saya dan teman teman. Buku ini menceritakan berbagai pengalaman para wartawan di lapangan atau pun hasil riset atau penelitian mereka. Kita bisa menambah pengalaman kita dengan membaca buku ini, bisa mengetahui seperti apa pekerjaan wartawan sebenarnya, namun tetap, ini hanyalah buku. Pengetahuan terbaik didapatkan dari pengalaman.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: