Posted by: Holdani R. | September 30, 2013

Apresiasi Buku Bagaimana Meliput dan Menulis untuk Media Massa

Nih, tugas gue lagi untuk mata kuliah Penulisan Berita Khas Cetak, mata kuliahnya abang Sahat Sahala Tua Saragih.

Apresiasi Buku “Bagaimana Meliput dan Menulis Berita untuk Media Massa”

karya Ashadi Siregar

 

  1. I.            Rangkuman

Berita adalah rekonstruksi tertulis dari sebuah berita yang terjadi. Peristiwa perlu diberitakan paling tidak untuk dua alasan, yaitu memenuhi tujuan politik keredaksian suatu media massa atau memenuhi kebutuhan pembaca. Pada umumnya pembaca mengharapkan berita yang memenuhi atau membantunya mencapai tujuan hidupnya, seperti berita yang melaporkan adanya bahaya yang mengancam kehidupannya, berita yang mengungkapkan ancaman atau tekanan terhadap seseorang, berita yang menambah pengetahuan, dan berita yang mengungkapkan perkembangan atau penghambat dalam peningkatan kehidupan.

Media cetak diterbitkan untuk orang lain. Menulis berita untuk media cetak berarti menulis bagi pembaca. Berita disebut cocok bagi pembaca jika informasi yang diberitakan penting atau menarik bagi pembaca. Secara umum, latar belakang pembaca dapat dikenali berdasarkan tiga aspek, yaitu aspek geografis, aspek sosiografis, dan aspek psikografis.

Tidak semua peristiwa dapat dijadikan berita jurnalistik. Hal yang menjadikan suatu kejadian atau peristiwa layak sebagai berita adalah adanya nilai-nilai berita. Secara umum, kejadian yang memiliki nilai berita atau layak berita adalah yang yang mengandung beberapa unsure seperti Signifcance (penting), magnitude (besar), timeliness (waktu), proximity (kedekatan), prominence (tenar), dan human interest (manusiawi).

Berita yang baik hanya dapat ditulis apabila didukung oleh fakta yang lengkap dan akurat. Pencarian dan pengumpulan fakta dapat dilakukan dengan observasi , wawancara, atau melakukan riset dokumentasi. Fakta juga dapat didapat dari kesan indrawi orang lain, atribut yang dipunyai seseorang, pendapat, harapan, cita-cita, atau aspirasi seseorang.

Berita jurnalistik yang banyak muncul dalam surat kabar majalah berita dapat digolongkan atas berita langsung (straight/hard/spot news), berita ringan (soft news), berita kisah (feature), serta laporan mendalam (in-depth report). Berita langsung digunakan untuk menyampaikan kejadian-kejadian yang secepatnya perlu diketahui oleh pembaca. Berita ringan tidak mengutamakan unsur penting yang hendak diberikan, melainkan sesuatu yang menarik. Laporan mendalam, pada dasarnya memiliki struktur dan cara penulisan yang sama dengan berita kisah. Perbedaannya terletak pada adanya unsur manusiawi yang terdapat dalam suatu berita kisah, yang belum tentu ditemukan dalam berita mendalam.

Berita kisah adalah tulisan mengenai peristiwa yang dapat menyentuh perasaan, ataupun menambah pengetahuan pembaca melalui penjelasan rinci lengkap, serta mendalam. Berita kisah dapat dituliskan dari kejadian yang sudah masuk kotak sejarah. Berita kekinian bila ditulis dengan format berita kisah, waktu tidak menjadi kriteria utama, melainkan kepentingan peristiwa atau masalah itu untuk mendapat perhatian.

Berita kisah tidak selalu menunjukan unsur manusiawi (human interest) yang menyentuh perasaan. Ada berita kisah yang menguraikan profil suatu perusahaan atau organisasi. Ada pula berita kisah yang menjelaskan bagaimana melakukan sesuatu. Berita kisah digunakan untuk mengangkat nuansa atau warna kehidupan, hal yang tidak mungkin dilakukan dalam berita langsung.

Dalam menulis berita terdapat teras berita. Teras berita dapat ditulis dengan berbagai cara, tergantung pada apa yang ingin ditonjolkan untuk menarik perhatian pembaca. Untuk berita langsung digunakan struktur piramida terbalik, yaitu unsur-unsur terpenting ditliskan pada bagian teras berita. Untuk berita ringan dapat ditulis dengan struktur berita piramida terbalik, bisa juga dengan struktur bebas.

Berita kisah dan laporan mendalam ditulis dengan struktur bebas, tidak menggunakan struktur piramida terbalik. Teras pada berita kisah biasanya hanya merupakan usaha untuk menarik perhatian, bukan memberi informasi yang lengkap. Tubuh berita kisah dan laporan mendalam tidak memiliki struktur yang baku. Pada berita kisah dan laporan mendalam, sari terpenting berita bisa ditemukan di tubuh berita atau pada penutup berita.

Penulisan berita kisah, selain memberikan fakta-fakta yang sifatnya manusiawi, juga dengan gaya prosais menampilkan suasana, deskripsi sesuatu, atau kronologi peristiwa. Untuk berita kisah dan laporan, struktur tulisan yang terdiri atas teras berita, tubuh, dan penutup, perlu diperhatikan secara berurutan.

Sebelum turun ke lapangan, wartawan perlu menyiapkan diri sebaik-baiknya agar dapat membaca situasi di mana dia berada dan bekerja. Wartawan juga harus menjalin hubungan baik dengan sumber berita, menjaga akurasi dan keberpihakkan, mengutamakan objektivitas, menghindari tuntutan hukum, menjaga etika profesi dan memahami politik keredaksian.

 

  1. II.          Apresiasi

Buku Bagaimana meliput dan menulis berita untuk media massa karya Ashadi Siregar, sesuai judulnya, memberikan cara bagaimana mengumpulkan informasi dalam rangka menulis berita untuk media massa. Hal-hal yang perlu diperhatikan wartawan ketika memproduksi berita.

Di bagian awal buku, penulis buku menjelaskan mengenai tujuan dari memberitakan sebuah peristiwa. Salah satu tujuannya adalah untuk memenuhi kebutuhan pembaca. Seperti yang telah dijelaskan dalam diktat Penulisan Berita Khas Media Cetak karya Sahat Sahala Tua Saragih, dan juga diktat sebelumnya di mata kuliah sebelumnya yaitu Wawancara, bahwa manusia memiliki rasa ingin tahu dan bahkan sekarang sudah memiliki hak untuk tahu.

Tujuan lain adalah memenuhi tujuan politik keredaksian sebuah media massa. Media massa, dalam hal ini adalah sebuah organisasi yang memberikan informasi kepada masyarakat. Di dalam media massa terdapat wartawan-wartawan (pers) yang telah diberikan hak untuk mengetahui secara sosiologis oleh masyarakat, oleh sebab itu pers disebut lembaga kemasyarakatan.

Kemudian penulis juga menjelaskan mengenai pentingnya mengenali karakterisitik pembaca. Menurut saya, hal tersebut penting karena sebuah media tidak akan maju jika tidak ada yang membeli dan membaca media tersebut. Oleh sebab itu, sebuah media harus mengenali karakteristik pembacanya, mungkin dengan survey terhadap para pembacanya dan juga survey terhadap sampel calon pembeli.

Penjelasan selanjutnya mengenai nilai-nilai dalam sebuah berita sebelumnya juga telah dibahas dalam diktat yang dibuat oleh S. Sahala Tua S. Menurut saya penjelasan mengenai nilai-nilai berita itu cukup penting dan patut diperhatikan dalam membuat dan menulis sebuah berita. Wartawan harus tahu mana yang layak diberitakan dan mana yang tidak.

Dalam proses pengumpulan fakta, dalam buku tersebut dijelaskan tiga cara, yaitu observasi, wawancara, dan dokumentasi. Menurut saya, ada baiknya ketiganya bisa digabungkan, semakin banyak cara berarti semakin banyak informasi yang didapat. Mungkin memang, ada kalanya dimana wartawan hanya bisa melakukan dua dari tiga cara tersebut, namun sedapat mungkin seorang wartawan harus bisa melakukan ketiganya.

Dalam buku tesebut dijelaskan secara umum mengenai wawancara. Saya rasa seorang wartawan juga harus mengetahui syarat-syarat wawancara berita. Dalam buku Jurnalistik Indonesia karya AS Haris Sumadiria, wawancara berita harus memiliki tujuan yang jelas. Wawancara berita harus efisien dan menyenangkan. Sebelum melakukan wawancara, wartawan harus mengadakan persiapan dan riset awal. Wartawan juga perlu melibatkan khalayak dan menimbulkan spontanitas. Pewawancara adalah pengendali wawancara dan harus mengembangkan logika.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan selama wawancara yaitu, menjaga suasana, bersikap wajar, memelihara situasi, kecepatan dalam menarik kesimpulan, menjaga pokok persoalan, kritis, dan sopan santun. Jangan salah mengeja nama orang yang akan diwawancarai dan jangan menjanjikan bahwa hasil wawancara pasti dimuat.

Dalam bab kelima  buku ini yang berjudul Kritis Terhadap Fakta dijelaskan mengenai sikap kritis yang diperlukan oleh wartawan. Sikap kritis, klasifikasi, analisis, dan penalaran menurut saya adalah bagian dari verifikasi. Seperti yang tertuliskan dalam buku Sembilan Elemen Jurnalisme karya Bill Kovach dan Tom Resenstiel, bahwa elemen ketiga dalam jurnalistik adalah disiplin verifikasi. Jadi, menurut saya dengan adanya bab kelima dalam buku ini sudah bagus.

Dalam buku ini dijelaskan juga mengenai berita khas atau berita kisah atau feature. Dalam buku ini feature diterjemahkan sebagai berita kisah. Mungkin sesuai dengan definisi yang juga tertulis dalam buku ini, feature adalah berita yang mengisahkan. Definisi atau pengertian feature yang sering saya temukan adalah pengertian menurut Williamson, “A feature story is a creative, sometimes subjective, article designed primarily to entertain and to inform readers of an event, a situation or an aspect of life”.

Dengan definisi tersebut yang sering saya temukan, saya merasa mungkin inilah definisi feature yang paling mendekati definisi feature sesungguhnya. Hal yang bisa saya tangkap dalam definisi tersebut adalah bahwa berita khas atau berita kisah harus disajikan secara kreatif kepada pembaca dengan kemasan yang dapat membuat pembaca terhibur. Berita kisah tidak harus selalu menghibur, bisa juga menggugah emosi.

Septiawan Santana K. Dalam bukunya, Menulis Feature menuliskan bahwa berita khas memiliki muatan nilai human interest dan colour story yang sangat kaya. Detail-detail kisah kemanusiaan adalah lahan bagi wartawan. Dalam pengantar buku Menulis Feature pun, terdapat tiga kata yang mungkin dapat menjelaskan berita khas, yaitu “Gambarkan, bukan ceritakan”. Kata-kata tersebut menurut saya menjelaskan bahwa feature harus memberikan detail-detail sebuah peristiwa, tidak seperti cerita biasa. Penulis berita khas harus mampu menggambarkan keadaan peristiwa yang terjadi agar pembaca dapat membayangkannya.

Menurut saya, buku Bagaimana Meliput dan Menulis Berita untuk Media Massa hanya menjelaskan sedikit mengenai berita khas. Saya ingin menambahkan fungsi berita khas yang dijelaskan oleh AS Haris Sumadiria dalam bukunya Jurnalistik Indonesia. Berita khas menjadi pelengkap sekaligus variasi sajian berita langsung, sebagai pemberi informasi yang menarik tentang suatu situasi, keadaan, atau peristiwa yang terjadi.

Berita khas juga berfungsi sebagai penghibur atau sarana rekreasi dan pengembangan imajinasi yang mengembangkan. Hal inilah yang saya jelaskan sebelumnya. Berita khas mampu membuat pembaca berimajinasi setelah membacanya. Berita khas yang bagus mampu membuat pembaca seolah-olah merasakan alur cerita atau kisah didalamnya, sehingga tergugah emosinya.

Berita khas sebagai pemberi nilai dan makna terhadap suatu peristiwa. Berita kerap hadir tanpa nilai dan makna, dengan feature, berita tak hanya dilihat dari sisi kuantitatif. Fakta berita yang disajikan dalam bentuk feature menghadirkan sekaligus memberi makna terhadap dimensi kualitatif atas suatu peristiwa, situasi, atau keadaan. Terakhir, berita khas sebagai wahana ekspresi yang paling efektif dalam memengaruhi khalayak.

Dalam buku Bagaimana Meliput dan Menulis Berita untuk Media Massa terdapat satu jenis berita lagi yaitu berita ringan. Dilihat dari fungsinya, berita ringan terlihat sama dengan berita khas, apakah memang berita ringan dan berita khas harus dibedakan? Dari buku tersebut saya melihat hal yang membedakannya adalah gaya penulisannya.

Buku yang berjumlah sekitar 238 halaman itu juga menjelaskan sedikit mengenai teras berita. Saya setujut dengan apa yang tertuliskan dalam buku tersebut, yaitu teras berita khas haruslah yang menarik perhatian, bukan yang menjelaskan semua informasi penting seperti pada berita langsung. Teras berita khas harus yang membuat pembaca penasaran, dimulai dengan gaya berkisah layaknya cerita-cerita pendek.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: